Foto
18Agu

SAMBUTAN MENTERI PARIWISATA PADA UPACARA BENDERA PERINGATAN HARI ULANG TAHUN KE-71 KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA 17 AGUSTUS 2016

Assalamualaikum Wr. Wb.

Salam sejahtera bagi kita semua.

Om Swastiatu,

Namo Buddhaya.


Puji syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya sehingga pada pagi ini kita dianugerahi kesehatan dan kekuatan untuk bersama-sama melaksanakan Upacara Bendera dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun ke71 Kemerdekaan Republik Indonesia, dan menunjukkan bahwa kita adalah bangsa yang besar, yang menghormati jasa pahlawannya. 

Saudara-saudara sekalian,


Sekarang kita berada pada era persaingan global. Kompetisi antar negara luar biasa kerasnya, luar biasa sengitnya. Untuk memenangkan kompetisi, untuk menjadi bangsa pemenang, kita harus berani keluar dari zona nyaman. Kita harus kreatif, optimis, bahu-membahu, dan melakukan terobosan-terobosan. Semua itu demi mempercepat pembangunan nasional, dem meningkatkan daya saing kita sebagai bangsa. 


Tanpa keberanian kita keluar dari zona nyaman, kita terus dihadang oleh tiga masalah utama bangsa, yaitu kemiskinan, pengangguran, dan kesenjangan sosial. Diperlukan langkah-langkah terobosan, diperlukan kecepatan kerja, diperlukan lembaga-lembaga negara yang kuat dan efektif untuk mengatasi tiga masalah utama bangsa tersebut. 


Tahun 2016 ini telah ditetapkan sebagai Tahun Percepatan Pembangunan Nasional. Kita harus melangkah menuju Indonesia maju. 


Percepatan pembangunan tersebut mutlak kita perlukan. Sudah 71 tahun Indonesia merdeka, kita belum mampu memutus rantai kemiskinan, memutus rantai pengangguran, dan memutus rantai kesenjangan sosial. 


Pada tahun percepatan pembangunan ini, Pemerintah fokus pada tiga langkah terobosan untuk pengentasan kemiskinan, pengangguran, dan kesenjangan sosial. Ketiga langkah itu adalah : Pertama, Percepatan pembangunan infrastruktur. Kedua, penyiapan kapasitas produktif dan Sumber Daya Manusia. Ketiga, deregulasi dan debirokratisasi. 


?

Saudara sekalian, 

Pada kesempatan ini Saya menekankan kembali, Pariwisata adalah jalan baru dan lebih cepat untuk memutus rantai kemiskinan, pengangguran, dan kesenjangan yang selama 71 tahun kita hadapi. Tahun 2019, Pariwisata diproyeksikan menyumbangkan PDB sebesar 15%, devisa sebesar Rp. 280 triliun, dan menyerap 13 juta tenaga kerja, serta diyakini mampu menciptakan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi yang lebih tersebar di seluruh tanah air.


Tiga fokus langkah percepatan yang disampaikan Presiden di atas, adalah strategi yang sedang kita jalankan di Kementerian Pariwisata. 


Fokus pertama, Infrastruktur merupakan syarat mutlak untuk kemajuan pariwisata. Oleh karena itu kita sedang mempercepat infrastruktur di 10 destinasi prioritas, yang akan dikembangkan ke destinasi lain secara bertahap yang didukung oleh branding Wonderful Indonesia dan Pesona Indonesia secara intensif, inovatif, dan interaktif. 

Fokus kedua, SDM merupakan kunci untuk memenangkan persaingan global. Saya tekankan lagi, Pesaing Emosional kita adalah Malaysia, dan Pesaing Profesional kita adalah Thailand. Untuk itu kita harus memiliki SDM-SDM profesional terbaik, caranya, build, borrow, dan buy. Cara optimal saat ini adalah borrow. Oleh karena itulah kita sekarang didampingi oleh Shadow Management yaitu para ahli dengan reputasi yang sudah teruji di bidangnya.


Fokus Ketiga, debirokrasi-deregulasi. Beberapa langkah deregulasi yang sudah kita lakukan antara lain BVK (Bebas Visa Kunjungan), Pencabutan CAIT untuk industri wisata layar dan moratorium azas cabotage untuk wisata kapal pesiar pada lima pelabuhan besar di Indonesia. 


Sedangkan langkah debirokrasi yang kita lakukan adalah implementasi teknologi digital, kita harus semakin digital, karena itu kita kembangkan E-Government, E-Tourism, TXI (Travel Exchange Indonesia), ITDW (Indonesia Travel Data Warehouse) dan lain-lain.


Saudara sekalian,


Kita harus berani mengakui fakta brutal bahwa Indonesia yang merupakan negara besar dikalahkan oleh negara-negara kecil seperti Thailand, Malaysia, bahkan oleh Singapura. Kita bisa mengalahkan mereka, tetapi kita harus merencanakannya dengan baik, karena kemenangan itu direncanakan. Setiap personil Kemenpar harus memiliki karakter pemenang. Karakterlah yang membuat perusahaan/negara itu hebat. Dalam pembentukan karakter kita membutuhkan budaya kerja yang tangguh, yang saya namakan Win Way atau Jurus Kemenangan. Win Way juga dapat diartikan sebagai Wonderful Indonesia Way dengan nilai-nilai Solid, Speed, dan Smart. 



Pertama Solid, yaitu kekompakan dan persatuan menuju terwujudnya Indonesia Incorporated. Perlu diingat produk wisata merupakan sebuah ekosistem yang melibatkan beragam pihak dan stakeholder. Saya menyebutnya dengan konsep Pentahelix, yang mencakup: academician, business, government, community, media, untuk mudahnya saya singkat menjadi ABGCM. Seluruh unsur Pentahelix harus bahu-membahu dan bergotong-royong untuk memperjuangkan pariwisata Indonesia, mengalahkan Malaysia dan Thailand.


Saudara-Saudara, jika sudah menyangkut solid, maka kita tidak bisa kompromi. Sebagai ilustrasi, sekali waktu ahli strategi perang Tiongkok, Sun Tzu, ditunjuk Raja Wu memimpin pasukan elite kerajaan yang beranggotakan 180 perempuan cantik yang beberapa merupakan selir-selir raja. Pasukan itu dibagi ke dalam dua kelompok yang masing-masing dipimpin oleh selir tercantik. Sun Tzu menghukum dua pemimpin pasukan tersebut dengan memenggal kepalanya karena mengabaikan perintahnya sampai tiga kali. Raja Wu keberatan, namun Sun Tzu tak bergeming karena sikap dua pemimpin pasukan tersebut telah melemahkan bahkan menghancurkan soliditas pasukan. Kalau menyangkut soliditas pasukan, Sun Tzu tidak mau berkompromi. 


Kedua Speed, yaitu kecepatan dalam berpikir (fast thinking), kecepatan dalam memutuskan (fast decision), dan kecepatan dalam masuk ke pasar (fast in getting to market) dengan menyingkirkan belitan-belitan birokrasi yang ada. Simplify the complex things. Sederhanakan sesuatu yang rumit agar kita bisa bergerak cepat. Ini sejalan dengan tema yang telah ditetapkan oleh Bapak Presiden tahun ini yaitu, Tahun Percepatan. 


Prof. Michael Porter dari Harvard Business School mengatakan ada empat strategi generik untuk memenangkan persaingan, yaitu: differentiation, cost leadership, focus, dan speed. 


Dari empat strategi tersebut kelemahan utama kita terletak di speed. Coba saja lihat, dari sisi differentiation dan focus kita memiliki kekayaan alam melimpah masuk dalam top 20 dunia. Dari sisi cost competitiveness bahkan kita masuk top 3 dunia. 


Sementara dari sisi business environment yang salah satu elemennya adalah birokrasi/regulasi kinerja kita sangat buruk. Menurut World Economic Forum hanya di posisi 93 yang kemudian naik menjadi 63 tahun lalu.   


Ketiga Smart. Kecepatan yang luar biasa tak akan ada gunanya jika pikiran dan tindakan Anda tidak Smart. Ide dan keputusan yang keliru akan membawa Anda terperosok ke dalam jurang, secepat apapun langkah yang Anda ambil. 


Karena itu berpikir, bersikap, dan bertindak secara cerdas sangat penting untuk menggapai kemenangan. Cara Smart cara paling efektif dan paling cepat untuk membawa organisasi kita menjadi yang terbaik adalah dengan melakukan Benchmarking. Einstein pernah mengatakan, Orang biasa itu belajar dari kesalahan diri sendiri, sedangkan saya belajar dari kesalahan orang lain.


Cara Smart lainnya adalah berinovasi. Kita tak akan bisa memenangkan persaingan kalau terus-menerus bekerja secara rutin alias business as usual. Kita tak akan menjadi yang terbaik kalau terus-menerus melakukan hal yang sama. Untuk melakukan inovasi tidak semuanya harus ditemukan sendiri disini, kita bisa mengambilnya dari manapun, dari siapapun. Seperti kata-kata Jack Welch, seorang CEO Top Dunia sepanjang masa, yaitu NIH yang artinya Not Invented Here.


Cara Smart berikutnya adalah Go Digital. Saya percaya penuh bahwa: The more digital, the more personal. The more digital, the more global. The more digital, the more professional.




Saudara-saudara sekalian,


Kemiskinan, pengangguran, dan kesenjangan sosial sudah merupakan masalah laten yang belum tuntas hingga 71 tahun Indonesia merdeka. Di awal telah saya sampaikan, Pariwisata adalah jalan baru dan lebih cepat, jalan yang mudah dan murah untuk memutus rantai kemiskinan, ketimpangan, dan kesenjangan tersebut. Hal ini hanya akan bisa terwujud jika kita memiliki karakter pemenang, Win Way Character yang Solid, Speed, Smart. Jika itu tercapai, maka seluruh personil Kementerian Pariwisata akan menjadi pahlawan pengisi kemerdekaan dengan kesejahteraan masyarakat yang lebih merata.


Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa selalu bersama kita semua, untuk berjuang mewujudkan Indonesia sebagai Negara Maju, menjadi bangsa pemenang yang berdaulat secara politik, berdikari di bidang ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan.


Dirgahayu Republik Indonesia!

Dirgahayu Negeri Pancasila!

Salam Pesona Indonesia!

Terimakasih!


Wassalamualaikum Wr. Wb.

Om Shanti Shanti Shanti Om. 



Menteri Pariwisata,



Dr. Ir. Arief Yahya, M.Sc.